Sabtu, 10 September 2011

Bang Radith ada di Wikipedia.. auuuu

Gue ngambil ini di Wikipedia. Sumpah seneng banget gue..
Raditya Dika (Dika Angkasaputra Moerwani) (lahir di Jakarta, 28 Desember 1984; umur 26 tahun), akrab dipanggil Radith, adalah seorang penulis asal Indonesia. Di Indonesia, Raditya Dika dikenal sebagai penulis buku-buku jenaka. Tulisan-tulisan itu berasal dari blog pribadinya yang kemudian dibukukan. Buku pertamanya berjudul Kambing Jantan masuk kategori best seller. Buku tersebut menampilkan kehidupan Dikung (Raditya Dika) saat kuliah di Australia. Tulisan Radith bisa digolongkan sebagai genre baru.Kala ia merilis buku pertamanya tersebut, memang belum banyak yang masuk ke dunia tulisan komedi.Apalagi bergaya diari pribadi (personal essay).
Karya pertama yang mengangkat namanya adalah buku berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005).[2] Buku ini menceritakan kehidupan Radith ketika masih berkuliah di Adelaide, Australia.[rujukan?] Cerita yang dibawakan Radith adalah kisah-kisahnya sebagai pelajar Indonesia yang berkuliah di luar negeri.[3] Buku ini ditampilkan dalam format diary (buku harian).[rujukan?] Seluruh cerita dalam karyanya tersebut berasal dari blog pribadi terdahulu milik Radith, www.kambingjantan.com, yang sekarang menjadi www.radityadika.com.[1]
Buku keduanya berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006.[4] Hampir sama dengan buku sebelumnya, cerita-cerita dalam buku ini berasal dari kisah keseharian Radith.[4] Namun, buku kedua ini menggunakan format cerita pendek (cerpen) yang bercerita mengenai pengalaman cinta Radith yang sepertinya selalu tidak beruntung.[4] Isi dari buku ini meliputi kisah dari sewaktu Radith mengirim surat cinta pertama ke teman saat SD hingga pengalaman Radith memerhatikan kucing Persia-nya yang jatuh dengan kucing kampung tetangganya.[4]
Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29 Agustus 2007.[5] Buku ketiga ini mengisahkan Radith yang pernah menjadi badut Monas dalam sehari, mengajar bimbingan belajar, lalu saat Radith dikira hantu penunggu WC, sampai cerita mengenai kutukan orang NTB.[5] Sementara, buku keempatnya berjudul Babi_Ngesot:_Datang_Tak_Diundang_Pulang_Tak_Berkutang terbit pada bulan April 2008.[1]
Ia juga bermain dalam film yang diangkat dari pengalaman hidupnya, Kambing Jantan: The Movie.[6] Pada pertengahan bulan November 2009, melalui situs resminya, Radith mengumumkan bahwa buku kelimanya yang berjudul Marmut Merah Jambu akan segera terbit dengan jadwal edar sementara pada bulan Desember 2009.[1] Namun pada pertengahan bulan Desember silam, Radith kembali lewat situs resminya menyatakan bahwa buku kelimanya tersebut masih mengalami sedikit perubahan dan juga penambahan cerita pada beberapa bagian, sehingga kemungkinan besar penerbitan buku tersebut akan mundur beberapa waktu.[1]
Radith mengawali keinginan untuk membukukan catatan hariannya di blog pribadinya saat ia memenangi Indonesian Blog Award.[7] Radith juga pernah meraih Penghargaan bertajuk The Online Inspiring Award 2009 dari Indosat.[7] Dari pengalaman itu, ia cetak (print out) tulisan-tulisannya di blog kemudian ia tawarkan naskah cetakan itu ke beberapa penerbit untuk dicetak sebagai buku. Awalnya banyak yang menolak, tapi kemudia ketika ia ke Gagasmedia, sebuah penerbit buku, naskah itu diterima, meski harus presentasi dahulu.[1]
Radit sukses menjadi penulis karena ia keluar dari arus utama (mainstream).[rujukan?] Ia tampil dengan genre baru yang segar.[1] Yang membuat ia berbeda dari penulis lain adalah ide nama binatang yang selalu ia pakai dalam setap bukunya. Dari buku pertama hingga terbaru, semua judulnya mengandung nama binatang.[rujukan?] Bagi Radith, ini adalah selling point-nya.[1]
Bagi Radith, sebagai penulis tetap harus memiliki inovasi.[rujukan?] Sebenarnya, pada bulan-bulan pertama, buku pertamanya tidak terlalu laku.[rujukan?] Ini, menurut Radith, adalah risiko masuk dalam genre baru.[rujukan?] Radith kemudian gencar berpromosi di blog yang ia kelola.[1] Selain itu ia juga gencar promosi dari mulut ke mulut (word of mouth).[1] Radith meminta pembacanya untuk berfoto dengan buku pertamanya itu kemudian dikirim ke Radith.[rujukan?] Jadilah ini sebuah strategi pemasaran yang bisa mengelola pembaca sebagai target pasarnya.[1] Menurut Radith, dalam menulis, tidak serta-merta setelah buku terbit, urusan selesai.[rujukan?] Kemudian, pemasaran diserahkan kepada penerbit.[1]
Sebaliknya, penulis seharusnya juga menjadi pemasar bagi bukunya sendiri karena sebenarnya penulis juga seniman.[rujukan?] Penulis yang kreatif akan menjadikan bukunya sebagai produk yang baginya harus bisa laku di pasaran.[rujukan?] Meskipun pada dasarnya buku adalah bukan barang komersial, tetapi memandang buku sebagai sebuah produk berilmu yang pelu dipasarkan adalah sebuah hal yang perlu dilakukan saat ini.[1]
Menjadi penulis sukses bukan berarti tidak ada hambatan.[1] Menurut Radith, hambatan bukan hanya dari industri buku, melainkan juga dari hal-hal yang sifatnya diagonal.[rujukan?] Artinya, lawan dari industri buku bisa jadi bukan industri buku lain tapi industri lain yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali seperti hiburan (entertainment), makanan, dan lain-lain.[1] Sebagai contoh, bila ada anak muda memiliki uang 50.000 rupiah, belum tentu ia akan membelanjakannya untuk buku.[rujukan?] Bisa jadi uang itu digunakan untuk menonton film di bioskop atau membeli makanan cepat saji.[rujukan?] Dan yang jelas, buku bukan pilihan utama.[1]
Bagi Radith hal ini memang sudah lazim.[rujukan?] Yang perlu dilakukan adalah terus berkreasi dan bertindak kreatif.[1] Baginya, kompetisi yang ada adalah kunci untuk berinovasi.[rujukan?] Tekanan kompetitor bisa menjadi motivasi untuk terus memberikan ide-ide baru dan menggali kemampuan.[1]
Radith kini meneruskan studinya di program ekstensi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Indonesia.[rujukan?] Selain itu, kini ia berkarier di penerbit buku Bukune.[1] Radith bertindak sebagai direktur juga sebagai direktur dan pemimpin redaksi.[1]
Novel
Komik (bersama Dio Rudiman)







Bang, pada akhirnya gue harus mengakui kalo gue ngefans banget sama loe..

Ekskul ku, penuh warna

Guten Abend everyone :)
Udah satnite aja sekarang. Dan satnite gini, gue tetep jadi jomblo ngenes yang ngabisin waktunya berkutat di warnet. -_-
Masa ya, gue tadi ke MCD, nah disana tuh rame bener. Ini nih yang gak gue suka dari satnite. Semua orang keluar dari kediamannya. Huhuhuhuhu...
Alhasil, gue yang pergi bedua sama Anggun pun beranjak ke arah drive thru dan mesen makanan disitu dan akhirnya dibawa ke warnet. ckckckck...
Gatau kerasukan setan apa, gue pengin nyeritain tentang SMA gue nih..
Bukan tentang SMA aja, gue juga bakal nyeritain kerjaan gue disana. Hahahahaha..
So, check this out!

Gue sekolah di SMA 75 Jakarta. Kelas X.1
Alamatnya di Jl. Raya Tipar cakung. Kalo lebih detailnya, ada halte, belok, lurus sampe ujung, nah, sekolah gue samping YASPI dan sampingnya lagi kumpulan truk sampah. HAAHAHAHAHA ( ketawa maksa ).
Ini gambarnya :





Merupakan sekolah percontohan seperti SMA 1 Budi Utomo. Gue moving class.
SMA 75 punya banyak ruangan. Kantinnya juga luas banget. Ada masjid dan juga ada kamar mandi (ini sudah sangat jelas seharusnya).
Ada pembiakan ikan lele juga. Trus ada taman baca dibelakang perpus.
Well, kita sebut SMA 75 ini Green School . Sumpah bersih banget emang..
Ada beberapa ekskul disini, tapi gue ikut ekskul Jerman, Inggris, sama Jepang.
Monoton? ah.. enggak juga.
Di SMA 75 ini, gue jadi merasakan perubahan sikap yang mendalam.
Gue jadi lebih pendiem, konsen, dan belajar jadi orang yang sholehah ( aamiin ).
Gue berangkat jam 6 dari rumah dan nyampe sana jam 6.15.
Pelajaran yang gue suka disini adalah TIK, B. jerman, MTK, Biologi, Fisika, Kimia, sama Olahraga.
Yaaa.. gak ada yang lebih baik dari hidup gue yang sekarang :)
Banyaknya ekskul membuat gue mengenal banyak personal orang masing2.
Tapi, gue gak begitu aktif di ekskul Inggris. Kakak2 nya kurang memberi support dan mengajak adek kelasnya. Huhuhuhuhu..
Di klub Jepang, gue ketemu banyak anak2 yang seneng anime, seneng musik jepang, seneng cosplay.
Gue sendiri msaih beradaptasi sama semua itu. Tapi, anak2 nya asik buat diajak nimbrung dan ngobrol. Contohnya, temen gue yang namanya Risang. Dia itu caper banget sama kakak2 kelas. Tapi, orang asik buat bergawl.
Trus ada temen gue namanya Novia. Seneng banget anime. Ceesan gue sama dia karna gue juga suka buat gambar2 gak jelas.
Trus ada Tri, Asty ( adeknya ketua osis di 75 looh.. namanya kak Aji. Ganteng deh. Manis pula ), Elgusta, Baiq, dan masih banyak lagi.
Elgusta, itu cowok, dia seneng banget gambar anime. Tulisannya juga bagus. Hayaaaah.. gitulah.
Di klub Jerman, gue udah sangat familier sama orang2nya. Ada Dian aulia, ini anak tuh pinter bener. Asik diajak bergawl. Punya banyak kesamaan sifat sama gue. Cuma dia kurang suka ngobrol aja.
Ada Bagus, Aris, Tania, Tantri, Soni, EL, dan masih banyak lagi.
Hmm, yang namanya EL itu lucu yah. Gue punya sedikit informasi tentang dia. Dia kampungnya di Jawa dan dia tinggal di Tipar Cakung deket sekolah gue. Anak X.7. Temennya Bagus ( yang belom tau bagus, bisa follow @setyomuhammad ).
Tipikal anak pinter, ngelawak, pake kacamata, dan sangat item manis U_U
Gue suka tersepona gitu sama dia. Hahahaha.. Gue kan mesti move on dari yang dulu.
Makanya gue coba buat suka2 gitu.. Hahahahahaha.. ( Semoga bagus gak baca. Ntar gue dicengin ).
Pengalaman gue kalo suka sama orang adalah kecanggungan gue kalo udah deket. Salting gitu deh.
Ini menghambat gue! huh!
Di Jerman club, gue diajar sama Frau Rina, Frau Nurul, dan kakak2 mahasiswa.
Untuk di klub inggris, gue gak cerita dulu yah..
Kurang menarik diceritain soalnya :)
Oke. See you at around :*